Kamis, 17 Desember 2020

Puisi: Kau

Kau, ya kau

Mengapa kau harus senarsis itu

Memuntahkan semua kata-kata pilu

Tak cukupkah kau mengiris hati ini dengan ucapmu



Kau, ya kau

Letih kumendengar ocehanmu

Jari jemari lentikmu menguntai kata-kata pelu

Mengungkap betapa kurangnya diriku



Kau, ya kau

Tak pernahkah kau berkaca tentang dirimu

Tak pernahkan berpikir bahwa ucapmu

Mengiris hati hingga jiwa orang karena bualanmu



Kau, ya kau

Sudah cukup dengan tindak tandukmu

Muak aku dengan omong kosongmu

Aku memilih untuk menutup telinga,

Melangkah dengan bangga dengan imanku



Kau, ya kau

Ujaranmu, tindak tandukmu

Tak akan mampu melunturkan dalamnya imanku

Tak akan mampu menyapu mujurku


Catatan:
Puisi ini bercerita tentang kemarahan kepada seseorang yang hanya mampu berbicara, namun tak pernah tahu perjuangan orang lain dan terkadang kata-katanya membunuh pribadi seseorang. So, pahami, amati dulu sebelum bicara. 

0 komentar:

Posting Komentar