Blog Guru Kimia

Menyajikan bahan ajar dan pembelajaran kimia.

Webinar Nusantara Berbagi

Kolaborasi bersama teman-teman Sahabat Rumah Belajar dari Provinsi Papua Barat, Bangka Belitung, Jawa Barat, Lampung, Riau dan Kalimantan Tengah.

Webinar Kolaborasi SRB dan DRB 7 Provinsi

Webinar Series Bersama Teman-Teman Sahabat Rumah Belajar.

Selasa, 20 April 2021

Podcast Kesetimbangan Kimia

Jumat, 26 Maret 2021

Komik Kimia: pH Asam Kuat dan Basa Kuat

Komik ini didesain untuk Kelas Linta Minat yaitu Kelas XI IPS yang konsepnya tidak terlalu mendalam


Pentigraf: Bagai Air di Daun Talas

Bagai Air di Daun Talas

Oleh: Miokti Yessi



Sore itu di tengah hujan rinai-rinai, aku duduk di beranda rumah sambil memainkan tuts keyboard notebook kesayanganku. Dengan asyik merangkai kata, menganalisis data hasil penelitian, di tengah konsentrasi yang penuh, smartphoneku berbunyi, kulirik pesan yang masuk, ternyata dari Cika temanku, “Na, buku antologi puisi yang kemaren yang mau kamu kasih ke aku gak jadi kuambil ya.”begitu tulisnya. Pesan itu tak kuhiraukan.

Tanpa berpikir panjang kulayangkan pandangku ke layar datar cerah di depanku, melanjutkan fokusku, seolah kata-kata yang tertaut memanggil netraku mengamati setiap kata-kata yang telah dirangkai tadi. Tak berselang lama, Cika kembali mengirimkan pesan, “Na, besok pagi kuambil aja ya buku antologi puisinya, jangan kasih ke Kris, buatku aja.”tulis Cika.  

Akupun langsung tertawa, apalagi Cika langsung menelpon, setelah tanda centang biru 2 muncul di layar chat WhatsApp miliknya, menyatakan keinginan dan kesungguhannya. Akupun tak berhenti tertawa mendengar ocehan Cika, “memang bagai air di daun talas kamu ini ya Cik, gak kepegang omonganmu”,ucapku.

Kamis, 17 Desember 2020

Puisi: Kau

Kau, ya kau

Mengapa kau harus senarsis itu

Memuntahkan semua kata-kata pilu

Tak cukupkah kau mengiris hati ini dengan ucapmu



Kau, ya kau

Letih kumendengar ocehanmu

Jari jemari lentikmu menguntai kata-kata pelu

Mengungkap betapa kurangnya diriku



Kau, ya kau

Tak pernahkah kau berkaca tentang dirimu

Tak pernahkan berpikir bahwa ucapmu

Mengiris hati hingga jiwa orang karena bualanmu



Kau, ya kau

Sudah cukup dengan tindak tandukmu

Muak aku dengan omong kosongmu

Aku memilih untuk menutup telinga,

Melangkah dengan bangga dengan imanku



Kau, ya kau

Ujaranmu, tindak tandukmu

Tak akan mampu melunturkan dalamnya imanku

Tak akan mampu menyapu mujurku


Catatan:
Puisi ini bercerita tentang kemarahan kepada seseorang yang hanya mampu berbicara, namun tak pernah tahu perjuangan orang lain dan terkadang kata-katanya membunuh pribadi seseorang. So, pahami, amati dulu sebelum bicara. 

Puisi: ASA

Ketika asaku mulai bergema

Berteriak, gelisah, mendesah di relung jiwa

Tersiksa tanpa makna

 

Ketika asaku bergelora,

Menyeruak hingga pelupuk mata

Membangkitkan jiwa yang tak bernada

 

Asaku melambung bersama cinta

Berjangkar pada iman

Berserah pada Sang Pencipta


Catatan:

Puisi ini mengisahkan tentang harapan dan iman, bahwa sebagai manusia kita hanya perlu percaya bahwa Tuhanlah yang punya kendali atas semua. Kita hanya perlu menjaga api iman itu sambil bertindak